Tuesday, 13 Oct 2020

Perbandingan Asuransi Kesehatan Prudential Syariah Dengan Konvensional

Asuransi Kesehatan Prudential

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar kelima di dunia. Dengan status ini membuat negara ini memiliki pangsa pasar yang sangat besar. Khususnya yang berkaitan dengan produk produk syariah. Disebabkan mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam. Misalkan yang saat ini sedang booming yakni saham syariah, busana muslimah, dan Asuransi Kesehatan Prudential Syariah.

Tingkat kesadaran masyarakat muslim dan muslimah di Indonesia sangat tinggi terhadap ajaran-ajaran syariat Islam untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sesuatu yang berbau syariah lebih disukai dan laris manis di pasaran. Seperti perbankan syariah, reksadana syariah, deposito syariah, asuransi kesehatan syariah dan lain sebagainya.

Pro Kontra Asuransi Konvensional

Mengenai munculnya asuransi kesehatan yang berlabel swasta di tanah air maka sebagian umat Islam berpendapat asuransi kesehatan konvensional tersebut hukumnya haram. Sebab adanya ketidakpastian yang jelas atau ghoror. Untuk mengatasi hal itulah dibuatlah produk asuransi kesehatan dengan basis syariah yang dinamakan asuransi kesehatan syariah.

Asuransi kesehatan konvensional adalah suatu jenis asuransi yang sudah umum dipergunakan banyak orang di Indonesia. Asuransi inilah yang menjadi perdebatan para ahli fiqih disebabkan non syariah. Di dalamnya terdapat unsur ketidak jelasan dan ketidakpastian. Yang dalam istilahnya untung untungan seseorang mendapatkan biaya penggantian kerugian tanpa diketahui waktu yang pasti kapan menerimanya.

Hukum Asuransi Kesehatan Konvensional Menurut Islam

Dengan hadirnya produk asuransi yang jelas-jelas menerapkan non syariah membuat para ahli fiqh dan ulama di Indonesia berijtihad. Sebagian ulama berpendapat asuransi kesehatan konvensional adalah haram. Dengan dasar hal-hal berikut ini :

1.Karena adanya gharar dan taghrir yaitu suatu ketidakpastian dalam akad transaksi. Pada awal masa berlaku asuransi sampai berakhirnya, tak bisa diketahui secara pasti siapa yang memperoleh kerugian atau keuntungan.

2.Riba dan Syubhat. Dalam asuransi kesehatan konvensional adanya unsur riba maupun syubhat. Hal ini terlihat dari proses awal mendaftarkan diri menjadi nasabah asuransi. Dimana harus membayarkan premi bulanan secara terus menerus. Mereka berharap memperoleh uang yang lebih besar di masa mendatang. Akan tetapi, itu tak pasti. Ia dapat saja memperolehnya dengan terlebih dahulu melakukan klaim dan ia bisa pula tak memperolehnya.

3.Untung Untungan

Asuransi kesehatan konvensional menerapkan prinsip untung untungan. Dimana nasabahnya membayarkan premi perbulan dengan tujuan untuk memperoleh uang yang lebih besar di kemudian hari. Jika nasabah mendapatkan uang lebih besar akibat kecelakaan atau sakit maka semua itu dilakukan secara untung untungan tanpa perlu ia bekerja. Dan ia bisa saja tak mendapatkan uang yang lebih besar itu jika tidak terjadi sakit atau kecelakaan.

Ketiga hal diatas yaitu untung untungan, riba dan gharar adalah sebuah transaksi atau kegiatan yang diharamkan oleh hukum Islam. Satu unsur saja sudah haram apalagi ada tiga unsur yang keharamannya pasti dan mutlak. Dari sinilah sebagian besar ulama mengharamkan asuransi kesehatan konvensional yang mengandung unsur haram.

Untuk mencari solusi atas penetapan asuransi kesehatan konvensional yang haram maka para pakar agama Islam membuat asuransi kesehatan yang sesuai syariah. Sehingga lahirlah asuransi kesehatan syariah yang halal dan meniadakan ketiga unsur di atas. Misalkan : Asuransi Prudential, Allianz, Takaful, Manulife dan lain-lain.

Dengan demikian sangat jelas, asuransi kesehatan yang selama ini kita kenal sebagai konvensional mempunyai unsur haram. Dan menurut kaidah fiqih bahwa sesuatu yang mengandung unsur haram maka sesuatu yang menjadi perantaranya adalah haram. Dengan inilah asuransi kesehatan konvensional menjadi haram dalam agama Islam.

Namun tingkat kebutuhan masyarakat Indonesia sangat tinggi terhadap produk asuransi kesehatan. Sehingga para ulama memberikan solusi atas hal ini dengan membuat produk asuransi kesehatan syariah yang terjamin kehalalan dan keberkahan dunia dan akhirat. Karena di dalamnya tidak terdapat unsur haram. Tapi hanya terdapat unsur halal. Seperti adanya sikap saling tolong menolong dalam kebaikan.

Dengan adanya asuransi kesehatan syariah maka akan meningkatkan minat masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi. Mereka tidak lagi beranggapan asuransi adalah haram. Sebab adanya asuransi kesehatan syariah yang halal dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Seiring dengan perkembangan jaman, nasabah asuransi kesehatan syariah terus bertambah besar. Bukan hanya dirasakan manfaatnya oleh kalangan muslim. Namun non muslim pun mulai menggunakan asuransi syariah. Karena lebih adil dan pasti serta saling menguntungkan.

Lalu bagaimanakah dengan BPJS kesehatan? Apakah ia termasuk asuransi kesehatan syariah atau bukan? Berdasarkan sistem yang dijalankan asuransi BPJS adalah adanya unsur gotong royong dalam membantu orang lain. Sehingga asuransi BPJS mengandung prinsip prinsip syariah dengan pengelolaan dana yang transparan.

Alasan Asuransi Kesehatan Prudential Syariah Lebih Unggul Ketimbang Konvensional

Produk asuransi kesehatan mempunyai tujuan dan maksud tertentu. Misalkan bagi kalangan perusahaan yang menerbitkan asuransi bertujuan untuk memperoleh laba atau profit. Begitupula bagi para nasabah asuransi bertujuan untuk mendapatkan keuntungan jika suatu saat terjadi hal yang tak diinginkan seperti sakit dan kecelakaan.

Adanya produk asuransi kesehatan seharusnya menguntungkan kedua belah pihak antara sang penanggung dan tertanggung. Dan itu terdapat pada asuransi kesehatan syariah. Berikut ini beberapa perbandingan asuransi kesehatan syariah dengan konvensional, antara lain:

1.Asuransi syariah diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah

Penerapan nilai nilai syariah pada asuransi kesehatan diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah. Sehingga terjamin kehalalan dan sesuai prinsip syariah yang adil dan menguntungkan serta kejelasannya. Sedangkan pada asuransi konvensional tidak adanya pengawasan dari DPS.

2.Lebih adil dan bersifat tolong menolong

Asuransi syariah menjalankan fungsinya sebagai alat proteksi diri bersifat tolong menolong dan lebih adil. Sehingga tidak ada yang dirugikan dan merugikan. Dana yang disetorkan oleh para nasabah bersifat hibah untuk dikumpulkan dan dikelola oleh perusahaan asuransi yang kemudian dana tersebut disalurkan kepada nasabah yang mengalami musibah. Sehingga jelas, asuransi kesehatan syariah bersifat menolong sesama secara sukarela.

Hal ini berbeda dengan asuransi kesehatan konvensional. Dimana pihak perusahaan sebagai pemilik premi dana yang dibayarkan oleh para nasabah. Sedangkan pada asuransi kesehatan syariah maka tugas perusahaan adalah mengelola dana premi nasabah yang dibayarkan dengan niat hibah. Dana yang terkumpul akan diberikan pada nasabah yang mengalami musibah.

Dalam asuransi kesehatan syariah antara sesama anggota terjalin ikatan kuat untuk saling tolong menolong di dalam kebaikan. Sistem yang dijalankan berdasarkan niat tolong menolong dan premi yang dibayarkan bersifat hibah. Yang berbanding terbalik dengan asuransi kesehatan konvensional yang berupa transaksi jual beli.

3.Lebih rinci

Akad dalam asuransi kesehatan syariah lebih jelas dan rinci ketimbang akad pada asuransi kesehatan konvensional. Pada akad akan diberitahukan manfaat asuransi dan resikonya. Pihak perusahaan akan menjelaskan keuntungan dan kerugian mengambil polis asuransi kesehatan syariah beserta kewajiban membayar premi.

Demikianlah perbandingan asuransi kesehatan prudential syariah dengan konvensional. Dengan mengetahui ini akan sangat mudah bagi anda untuk mengenali kelebihan asuransi syariah dibanding konvensional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *