Tuesday, 13 Oct 2020

Kenapa Uang Selalu Tidak Cukup Digunakan Untuk Gaya Hidup

Gaya Hidup

Pada kesempatan di pagi hari yang berbahagia ini, penulis mencoba menguraikan mengenai permasalahan finansial. Paling utama adalah kenapa uang cepat habis. Hal ini merupakan problematika hampir setiap orang di dunia. Gaji dan penghasilan yang mereka miliki setiap bulan selalu habis tak tersisa. Laksana tikus yang habis makan lalu mencari makanan lain lagi. Dan terus berputar kehidupan seperti itu tanpa istirahat sejenak. Dan uangnya cepat habis.

Gaji bulanan yang didapatkan di kantor maka cepat habis. Dan untuk menutupi kebutuhan hari-hari yang tersisa untuk sampai gajian lagi maka tak jarang orang berutang. Inilah yang dinamakan defisit keuangan. Uang cepat habis dan tak mencukupi untuk kebutuhan satu bulan.

Kalaulah gaji karyawan ditransfer lewat rekening bank maka sebelum satu bulan uang cepat habis. Sehingga rekening tabungan atau amplop gaji hanyalah tempat transit uang. Itulah yang sering dialami orang. Bahkan beberapa rekan kerja penulis, seringkali setiap gajian uangnya cepat habis dalam waktu satu hari. Karena untuk membayar utang-utang sebelumnya. Tragis memang!

Orang yang mengalami demikian, maka ia sukar untuk bisa menabung. Diperlukan sebuah kecerdasan finansial untuk mengatur keuangan secara baik.

Kenapa Uang Selalu Tidak Cukup

Bagi anda yang penasaran, berikut ini beberapa alasan kenapa uang selalu tidak cukup dan cepat habis dalam waktu singkat, antara lain :

1.Kurangnya pendidikan keuangan

Hal ini diungkapkan oleh Robert T Kiyosaki bahwasanya sekolah formal hanyalah mengajarkan bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah tak mengajarkan pendidikan finansial yang baik. Sehingga banyak dari lulusan sekolah yang mengalami kesulitan keuangan selepas lulus bahkan ketika ia bekerja di sebuah perusahaan ternama sekalipun.

Oleh karena itu, jika anda ingin anak anda tidak menderita kesulitan keuangan di masa depan maka sejak dini anak anda harus diajarkan pendidikan finansial yang baik. Minimal sejak ia duduk di Sekolah Dasar.

Paling pahit, kenyataan sekarang ini pendidikan finansial tak jarang tidak dipelajari oleh seseorang sejak lulus perguruan tinggi atau SMK. Kemudian mereka bekerja dan mendapatkan gaji. Namun gajinya selalu habis. Sehingga ketika akan menikah maka mereka tidak mempunyai biaya untuk melangsungkan pernikahan. Setelah menikah, tak jarang mereka tak mempunyai biaya untuk persalinan dan kesulitan finansial yang lain.

Pokoknya, orang yang kurang pendidikan finansial akan bingung untuk memperlakukan gaji atau penghasilannya? Mereka hanya fokus berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting, tak penting dan kurang penting. Hingga uang cepat habis. 

Seringkali penulis menemukan masalah keuangan ini yang uangnya cepat habis terjadi di masyarakat perkotaan dan yang utama pedesaan terpencil. Mereka terus berkutat dalam kesulitan keuangan yang terus habis dan itu berlangsung sepanjang hidup manusia. Dari sejak ia remaja atau bekerja hingga usia tua renta.

Tak jarang, banyak para manula (manusia lanjut usia) yang ketika pensiun atau di masa tua hidup dalam kondisi sangat miskin. Ia tak mempunyai uang yang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga menjadi beban keluarga. Kalaulah anak-anaknya pada sukses dan kaya raya serta berbakti kepada orangtua maka orang lanjut usia itu bisa hidup enak dan nyaman. Sebaliknya, kebanyakan orang lanjut usia hidup dalam kesusahan sebab anak-anaknya sama sama miskin dan sudah mempunyai keluarga dan kehidupan sendiri.  

Contohnya saja, kakek saya ketika ia masih muda sudah bekerja di Bandung sebagai pedagang bakso keliling. Setiap bulan ia mampu mendapatkan penghasilan sekitar Rp 2 juta. Namun uang itu selalu habis. Hal itu berlangsung selama puluhan tahun. Sampai ia memutuskan berhenti bekerja sebagai pedagang bakso karena mengalami kerusakan pada telinga. Ia kembali ke kampung halaman dan tak bekerja lagi. Sehingga menjadi beban anak-anaknya. Karena anak-anaknya hidup di daerah yang jauh dan mempunyai keluarga sendiri serta hidup dalam kondisi yang miskin pula membuat kakek hidup sangat miskin, sengsara dan memerlukan bantuan dari tetangga sekitar. Inilah fenomena yang sering kita saksikan di kampung atau kota terkait dampak kekurang pengetahuan pendidikan finansial.

Pendidikan finansial pada intinya mempersiapkan keuangan untuk masa depan. Sehingga kebutuhan keuangan di masa mendatang tetap terjaga dengan baik. Sebab hidup ini bukan hanya untuk hari ini tapi untuk hari-hari dan bulan serta tahun mendatrang. Oleh karena itu, pintarlah dalam mengelola keuangan yang terangkum dalam pendidikan finansial yang baik.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis di lapangan, pendidikan finansial sangat jarang diketahui dan dipelajari orang. Umumnya setiap orang mengatur atau mengelola keuangan berdasarkan yang diajarkan oleh lingkungan keluarga mereka. Inilah yang membuat orang kaya tetap kaya dan orang miskin tetap miskin.

Pendidikan finansial hanya diberikan oleh beberapa media massa dalam skala terbatas. Padahal ilmu ini sangat penting untuk menunjang kesuksesan dalam kehidupan seseorang. Supaya ia dapat hidup makmur, bebas finansial, dan kaya raya. Salah satu tokoh atau mentor ilmu pendidikan finansial yang terbaik adalah Robert T Kiyosaki. Untuk di Indonesia ada Safir Senduk.

Berapapun penghasilan yang anda miliki ttidak akan membuat anda kaya. Salah satu contohnya di negara Inggris ada seorang pria yang sangat miskin tiba-tiba memenangkan lotere sebesar satu milyar dollar. Ia menjadi bintang terkenal dan diwawancari oleh sejumlah media massa.

Praktis kehidupannya langsung menjadi mewah. Dengan uang sebesar itu, ia membeli mobil dan rumah mewah, membeli barang elektronik, makan makanan enak, minum minuman mahal, jalan-jalan dan lain-lain yang sifatnya konsumtif. Sampai dua tahun kemudian, uangnya habis. Dan ia menjual barang-barang yang telah ia beli untuk membiayai kehidupannya. Sehingga ia jatuh miskin kembali.

Materi pendidikan finansial yang paling utama adalah yang menentukan kaya tidaknya seseorang bukanlah ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang ia dapatkan. Namun ditentukan oleh seberapa besar atau banyak uang yang anda simpan.

2.Tak Terbiasa Memiliki Uang Banyak

Anda terbiasa dengan mindset pola pikir orang miskin yaitu selalu mempunyai uang dalam jumlah kecil. Sehingga ketika anda mempunyai uang dalam jumlah banyak maka anda merasa itu bukan pribadi anda. Pribadi anda adalah orang miskin yang  selalu mempunyai uang dalam jumlah kecil. Dengan mempunyai uang banyak maka anda akan bingung. Kemudian tanpa pikir panjang, membelanjakan uang tersebut sampai habis.

Contohnya : anda biasa mempunyai gaji sebesar Rp 400 ribu perbulan. Tiba-tiba, anda memperoleh penghasilan sebesar Rp 6 juta. Maka anda akan merasa kebingungan dalam memperlakukan sisa uang gaji tersebut yang sangat besar. Kemudian, anda menghabiskan uang itu untuk traktir teman, belanja kebutuhan tak penting dan lain sebagainya. Hingga uang cepat habis dalam waktu singkat.

Kenapa Uang Cepat Habis Menurut Islam

Untuk menjawab pertanyaan kenapa uang cepat habis menurut Islam maka kita kembali lagi kepada Al Qur’an dan al hadits sebagai sumber hukum Islam yang utama. Di dalam Al Qur’an, dijelaskan bahwa salah satu penyebab uang cepat habis adalah bersikap boros atau berlebihan. Dan Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berlaku boros atau berlebihan dalam belanja.

Agama Islam menyuruh kepada pemeluknya untuk bersikap tengah-tengah atau menjadi umat wasthan atau pertengahan. Dalam arti tidak boros dan tidak terlalu pelit. Agama Islam mengharuskan setiap pemeluknya agar bersikap seimbang dalam meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana sebuah doa : “Ya Tuhan kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat.” Solusi kenapa uang selalu tidak cukup adalah berinvestasi. Dalam ajaran agama Islam mewajibkan kepada setiap penganutnya untuk berinvestasi supaya kekayaan dapat terus berkembang dan tak cepat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *